Oleh: Dermawan
Dunia tidak pernah berhenti bergerak.
Setiap hari, perang meletus di suatu sudut bumi. Hutan-hutan yang dulu hijau berganti menjadi abu. Manusia menindas manusia lain atas nama kekuasaan, keuntungan, keserakahan, atau sekadar ketakutan. Di saat yang sama, ilmu pengetahuan melahirkan penemuan yang menakjubkan, budaya-budaya berjumpa dan saling memperkaya — namun di tengah semua itu, kita kerap tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang penting dan mana yang tidak.
Kita hidup dibanjiri informasi — tahu ada perang, tahu ada bencana, tahu ada ketidakadilan — tapi sering kali tidak tahu harus bersikap bagaimana, dan tidak tahu apa hubungannya semua itu dengan diri kita sendiri. Dan di sinilah pertanyaan terpenting muncul: nilai apa yang seharusnya menjadi kompas kita?
Di sinilah Jasutopia hadir. Dan di sinilah Mimitianisme lahir.
Mengapa Bernama Jasutopia?
Nama Jasutopia lahir dari perpaduan tiga kata: Jawa, Sunda, dan Utopia.
Jawa dan Sunda dipilih karena saya lahir, tumbuh, dan tinggal di Pulau Jawa — dan dari tempat inilah saya ingin memulai. Bukan karena Jawa dan Sunda lebih unggul dari budaya lain, tapi karena kebaikan yang nyata selalu dimulai dari tempat yang paling dekat dengan diri sendiri. Dari sinilah harapan saya: bahwa nilai-nilai baik yang tumbuh di Pulau Jawa dapat menyebar ke luar pulau, dan pada akhirnya menjangkau seluruh dunia.
Dan ternyata, setelah Mimitianisme itu sendiri terbentuk, saya menemukan bahwa budaya Sunda dan Jawa memang menyimpan nilai-nilai yang selaras dengannya — tentang keseimbangan, penghormatan terhadap sesama, dan keharmonisan dengan alam. Perlu saya tegaskan: keselarasan ini adalah temuan, bukan asal. Mimitianisme bukan warisan budaya Sunda atau Jawa. Ia adalah gagasan baru, yang kebetulan bertemu dengan kearifan yang sudah lama ada.
Sementara Utopia bukan sekadar mimpi kosong. Ia adalah arah — keyakinan bahwa dunia yang lebih adil, lebih damai, dan lebih berkelanjutan bukan sesuatu yang mustahil. Perubahan besar selalu bermula dari langkah kecil.
Apa Itu Mimitianisme?
Mimiti adalah kata dalam bahasa Sunda yang berarti awal, mula, atau yang pertama. Dalam bahasa Jawa, maknanya serupa — wiwitan. Dari kata inilah Mimitianisme lahir.
Tapi mimiti bukan sekadar penanda waktu. Ia berbicara tentang keaslian sebagai sebuah hak. Tuhan telah menciptakan alam dan segala isinya dengan sistem yang sudah berjalan jauh sebelum manusia ada — rantai makanan, ekosistem, keberagaman hayati, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Dan sistem itu, selama tidak dirusak oleh tangan manusia, berjalan dengan baik. Maka setiap makhluk, setiap ekosistem, setiap manusia, punya kondisi asal yang harus dihormati dan tidak boleh dirusak semena-mena. Apabila dirusak, harus ada pertanggungjawaban. Apabila dihancurkan, harus ada pemulihan.
Ada satu hal penting yang perlu saya luruskan sejak awal, karena sering disalahpahami. Sesuatu berhak untuk ada bukan karena ia berguna, tapi karena ia sudah lebih dulu ada. Manfaat bukanlah syarat hak — manfaat adalah bukti akibat. Lebah tidak berhak hidup karena ia menyerbuki tanaman kita. Lebah berhak hidup karena ia sudah lebih dulu ada. Bahwa kepunahannya nanti akan menghancurkan pangan kita, itu hanyalah bukti bahwa merusak yang asli selalu berbalik kepada perusaknya.
Mengapa ini penting? Karena kalau kegunaan dijadikan syarat, maka siapa pun bisa mencabut hak siapa pun — cukup dengan menyatakan bahwa makhluk itu tidak berguna. Kalimat semacam itu sudah terlalu sering dipakai sepanjang sejarah untuk membenarkan kekejaman.
Dari sinilah Mimitianisme berdiri — sebagai sebuah paham universal yang mengajak manusia untuk menghargai kehidupan dalam segala bentuknya, bukan karena diperintah, tapi karena logika dan nurani sudah cukup untuk menjelaskannya.
Mimitianisme berdiri di atas empat pilar yang saling berkaitan:
Pilar Pertama: Hak Atas Diri Sendiri
Ini adalah fondasi dari segalanya. Sebelum seseorang bisa menghormati orang lain, ia harus terlebih dahulu selesai dengan dirinya sendiri. Tubuhnya berhak beristirahat. Berhak sehat. Berhak dicintai.
Logikanya sederhana: kamu tidak bisa memberi apa yang tidak kamu miliki. Kalau kamu tidak tahu rasanya menghargai dirimu sendiri, kamu tidak punya referensi untuk menghargai orang lain. Dan karena kamu tahu rasanya tidak ingin disakiti, maka dari kesadaran itulah lahir tanggung jawab untuk tidak menyakiti orang lain.
Mimitianisme bukan melarang seseorang untuk berbuat baik kepada orang lain — berbakti kepada orang tua, membantu sesama, mencintai orang-orang di sekitarnya. Semua itu bukan bertentangan dengan Mimitianisme. Yang Mimitianisme ingatkan adalah satu hal yang sering kita lupakan: bahwa tubuh kita, pikiran kita, dan rohani kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Tuhan menitipkannya kepada kita untuk dijaga. Dan terlepas dari keyakinan apapun, secara logis pun tubuh adalah satu-satunya modal yang kita miliki untuk menjalani kehidupan ini. Menelantarkannya, menyakitinya, atau menghancurkannya — atas nama apapun — bukanlah kemuliaan. Selama kamu berbuat baik kepada orang lain tanpa menghancurkan dirimu sendiri dalam prosesnya, itu justru sangat mimitianis.
Ada satu hal lagi yang ingin saya tegaskan, dan ini yang paling saya jaga.
Hak atas diri sendiri itu melekat. Ia tidak bisa dicabut oleh siapa pun, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Yang bisa hilang bukanlah haknya, melainkan kemampuan merasakannya. Ini dua hal yang berbeda, dan bedanya sangat penting.
Bayangkan seseorang yang sakit jiwa. Ia mungkin tidak tahu bahwa tubuhnya berhak beristirahat. Ia mungkin tidak sanggup berkata “jangan sakiti saya”. Tapi ketidaktahuan itu tidak menghapus apa-apa. Haknya tetap ada, utuh, sama seperti hak siapa pun yang sehat dan sadar.
Selama berabad-abad, manusia berpikir sebaliknya. Mereka berkata: orang ini tidak mengerti, tidak bisa menuntut, maka ia tidak punya hak. Dengan alasan itulah orang sakit jiwa dikurung tanpa pernah ditanya, orang cacat diputuskan nasibnya tanpa pernah didengar, dan orang yang tidak bisa bersuara diperlakukan seperti benda.
Mimitianisme menolak cara berpikir itu. Hak tidak bergantung pada kemampuan menuntutnya.
Pilar Kedua: Hak Asasi Manusia
Setiap manusia lahir dengan identitas, budaya, bahasa, dan cara hidupnya masing-masing. Itu adalah keaslian yang melekat dan tidak boleh dipaksa berubah oleh siapapun. Percampuran budaya yang terjadi secara alamiah dan atas kesepakatan bersama bukanlah pelanggaran. Tapi ketika seseorang dipaksa meninggalkan identitasnya, diperlakukan lebih rendah karena latar belakangnya, atau kebebasannya dirampas — itulah yang dilawan Mimitianisme.
Kebebasan yang tidak berhenti pada orang lain
Di sinilah Mimitianisme mengambil jalannya sendiri, dan perbedaannya perlu saya jelaskan dengan terang.
Dalam pemahaman hak asasi manusia yang tumbuh di Barat, seseorang bebas melakukan apa saja selama ia tidak mengganggu kebebasan orang lain. Batasnya berhenti di situ. Selama tidak ada orang lain yang dirugikan, urusan itu dianggap selesai.
Mimitianisme setuju dengan batas itu — tapi tidak berhenti di sana.
Dalam Mimitianisme, seseorang bebas selama ia tidak mengganggu kebebasan orang lain, tidak menyakiti dirinya sendiri, tidak menyiksa atau merusak tubuhnya, tidak menyakiti hewan, dan tidak merusak lingkungan hidup.
Perhatikan bahwa yang bertambah bukan sekadar daftar larangan. Yang bertambah adalah cakupan siapa yang dianggap bisa disakiti. Dalam kerangka lama, hanya orang lain yang terhitung. Dalam Mimitianisme, dirimu sendiri terhitung, hewan terhitung, dan bumi terhitung.
Konsekuensinya nyata. Merokok sampai paru-paru rusak, begadang semalaman sampai tubuh remuk, memaksa diri bekerja tanpa henti sampai jatuh sakit — semua itu, dalam kerangka lama, adalah urusan pribadi yang tidak melanggar apa pun. Dalam Mimitianisme, itu adalah pelanggaran terhadap pilar pertama. Bukan karena orang lain dirugikan, melainkan karena kamu sendiri yang dirugikan — dan kamu juga berhak tidak disakiti, termasuk oleh tanganmu sendiri.
Ukurannya di sini sama seperti pada pilar-pilar yang lain: merusak atau tidak — bukan menahan diri atau tidak.
Karena itu berpuasa bukan pelanggaran. Tubuh yang berpuasa tidak rusak; ia pulih, bahkan sering menjadi lebih sehat. Latihan yang berat pun begitu: otot yang lelah tumbuh menjadi lebih kuat. Menahan diri demi tujuan yang baik adalah bentuk merawat diri, bukan lawannya.
Yang menjadi pelanggaran adalah ketika tubuh dipaksa sampai rusak, dan kerusakan itu tidak pulih.
Perlu saya tegaskan juga: ini bukan alasan untuk menghukum siapa pun. Mimitianisme tidak menuntut negara mengurung perokok. Yang ia tuntut hanyalah kejujuran — bahwa merusak diri sendiri tetaplah merusak, dan tidak menjadi netral hanya karena yang dirusak adalah milik sendiri.
Keaslian bukan berarti membekukan
Di sini muncul pertanyaan yang wajar, dan saya harus menjawabnya dengan jujur.
Kalau keaslian adalah hak, apakah berarti semua kebiasaan lama otomatis berhak dipertahankan hanya karena ia lama?
Tidak. Dan ini penting, karena kalau jawabannya iya, Mimitianisme akan berubah menjadi alasan untuk membekukan apa saja — termasuk yang menyakiti.
Perbudakan adalah kebiasaan yang sangat tua. Jauh lebih tua daripada hampir semua tradisi yang kita banggakan hari ini, dan dipraktikkan oleh hampir semua peradaban besar — termasuk yang kemudian mengaku paling beradab. Namun tidak ada seorang pun yang hari ini membelanya dengan alasan bahwa ia sudah ada sejak dulu.
Wangsa Habsburg memerintah sebagian besar Eropa selama berabad-abad, dan mempertahankan kebiasaan menikahkan sesama kerabat dari generasi ke generasi. Akibatnya tercatat dengan jelas dalam sejarah: keturunan terakhir mereka lahir dengan cacat berat dan tidak mampu meneruskan garis keturunan. Kebiasaan itu bertahan bukan karena ia benar, tapi karena ia menguntungkan yang berkuasa.
Perhatikan sesuatu di sini. Kedua contoh itu bukan datang dari kampung terpencil atau suku yang jauh dari kota. Keduanya datang dari pusat kekuasaan. Yang paling sering berlindung di balik kalimat “sudah dari dulu begitu” bukanlah orang kecil, melainkan yang berkuasa — sebab merekalah yang paling diuntungkan kalau keadaan tidak berubah.
Maka jelaslah: usia bukan ukuran kebenaran. Yang menentukan tetap sama seperti sebelumnya — apakah ia menyakiti, dan apakah rasa sakit itu bisa dihindari.
Dan justru karena kita hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, kita bisa saling belajar. Bukan dengan satu pihak merasa lebih tinggi lalu memaksakan kehendaknya, melainkan dengan setara — mengambil yang baik dari satu sama lain, dan meninggalkan yang menyakiti, siapa pun yang mewariskannya.
Lalu keaslian yang mana yang dijaga?
Keaslian yang luhur. Yang menghidupi, bukan yang melukai.
Banyak masyarakat adat di Nusantara memandang hutan bukan sebagai lahan kosong yang menunggu dibuka, melainkan sebagai lemari makan yang harus tetap terisi. Diambil seperlunya, ditutup kembali, dijaga agar isinya tidak habis. Ada bagian hutan yang tidak boleh disentuh sama sekali, dan larangan itu dipatuhi bukan karena ada polisi, melainkan karena mereka tahu apa yang terjadi kalau hulu air dikeringkan.
Dan cara berpikir seperti itu bukan satu-satunya. Ia muncul di banyak tempat, dengan nama yang berbeda-beda.
Di Maluku dan Papua dikenal sasi — sebidang laut atau kebun ditutup untuk jangka waktu tertentu agar isinya sempat pulih, lalu dibuka kembali lewat upacara. Di Sumatra ada lubuk larangan — satu ruas sungai yang dilarang dipancing sepanjang tahun, dan hanya dibuka sekali untuk dipanen bersama-sama, sehingga ikan sempat berkembang biak dan hasilnya cukup untuk semua orang. Masyarakat Baduy menyimpan padinya di leuit, lumbung yang isinya tidak dijual — padi ditimbun bertahun-tahun sebagai cadangan, sehingga kelaparan tidak pernah datang mendadak. Di Bali, air irigasi dibagi menurut giliran lewat subak, bukan menurut siapa yang paling kuat atau yang sawahnya paling hulu.
Perhatikan benang merahnya. Semua aturan itu menahan tangan manusia dari mengambil terlalu banyak, dan semuanya berjalan tanpa perlu diawasi aparat. Inilah keaslian yang berhak dijaga — dan yang justru kini sering dirampas atas nama pembangunan.
Hal yang sama berlaku pada seseorang. Orang yang mahir berenang berhak mempertahankan kemampuannya, bahkan mengembangkannya lebih jauh. Itu adalah miliknya, tumbuh dari tubuhnya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang berhak merampasnya.
Tapi hak yang sama juga bekerja ke dalam. Seorang anak yang begadang semalaman untuk bermain online gaming sedang merampas hak tubuhnya sendiri untuk beristirahat. Seseorang yang merokok sedang merampas hak paru-parunya sendiri untuk sehat. Tidak ada orang lain yang merampasnya. Ia sendiri yang melakukannya — dan itu tidak membuatnya menjadi lebih boleh.
Baik pada masyarakat maupun pada seorang manusia, polanya sama: yang asli dan menghidupi berhak dijaga, dan yang menghancurkan tidak menjadi benar hanya karena sudah menjadi kebiasaan.
Menilai bukan menaklukkan
Di sini akan muncul pertanyaan yang berbahaya, dan saya harus menjawabnya sekarang juga — sebab kalau tidak, pembaca akan menjawabnya sendiri dengan keliru.
Kalau kebiasaan yang menyakiti memang boleh dinilai, apakah itu berarti bangsa-bangsa Eropa dahulu berhak datang dan mengubah masyarakat yang mereka anggap buruk?
Tidak. Dan alasannya bukan karena Mimitianisme takut menilai. Alasannya karena menilai bukanlah menaklukkan.
Coba ujikan perbuatan mereka dengan ukuran Mimitianisme sendiri: apakah ia menyakiti, dan apakah rasa sakit itu bisa dihindari? Merampas tanah bisa dihindari. Membunuh bisa dihindari. Merenggut anak dari ibunya bisa dihindari. Melarang orang berbicara dengan bahasa ibunya bisa dihindari. Semuanya gugur seketika, bahkan tanpa perlu bertanya apakah tuduhan mereka benar atau tidak.
Sebab kalau obatnya lebih menyakitkan daripada penyakitnya, ia bukan obat. Ia penyakit yang lain.
Ada satu penanda yang lebih jujur lagi: lihat siapa yang diuntungkan. Kalau mereka sungguh datang untuk menghentikan penderitaan, mereka tidak perlu memiliki tanahnya, tidak perlu mengangkut emasnya, tidak perlu menguasai perdagangannya selama tiga ratus tahun. Perbaikan yang tulus selalu memakan ongkos bagi yang memperbaiki. Penaklukan selalu menghasilkan keuntungan bagi yang menaklukkan. Yang mereka lakukan menghasilkan keuntungan — dan dari situ kita tahu apa namanya.
Dan alasan yang paling mengikat adalah pilar pertama. Setiap orang punya hak atas dirinya sendiri. Memutuskan nasib orang lain “demi kebaikannya” tanpa pernah bertanya kepadanya adalah pelanggaran yang sama persis dengan yang saya tolak pada orang sakit jiwa dan orang cacat. Kalimatnya bahkan sama: mereka tidak mengerti apa yang baik bagi mereka, jadi biar kita yang memutuskan. Itu bukan menolong. Itu merampas, hanya saja diberi nama menolong.
Lalu apa yang boleh? Bicara. Menunjukkan. Membujuk. Memberi contoh. Semua itu tidak menyakiti siapa pun, dan karena itu semuanya sah.
Dan sejarah membuktikan jalan itu bekerja. Kebiasaan membakar janda hidup-hidup bersama jenazah suaminya di India akhirnya dihapus — dan yang paling keras menuntut penghapusannya adalah orang India sendiri. Perbudakan akhirnya dihapus — dan di barisan terdepan berdiri bekas budak. Perubahan yang bertahan selalu tumbuh dari dalam, sebab orang yang berubah karena diyakinkan tidak akan kembali ke kebiasaan lamanya begitu penjaganya pergi.
Jangan-jangan merekalah yang tidak beradab
Sekarang mari kita balik pertanyaannya. Siapa yang mengangkat mereka menjadi hakim?
Pada abad-abad yang sama ketika bangsa Eropa menyebut orang lain biadab, inilah yang terjadi di rumah mereka sendiri.
Mereka mengangkut jutaan manusia melintasi Samudra Atlantik, dirantai di dalam palka, untuk dijual sebagai barang. Mereka mengadili dan membakar hidup-hidup perempuan yang dituduh sebagai penyihir. Mereka menjadikan hukuman mati sebagai tontonan umum, lengkap dengan penonton yang membawa bekal. Mereka mengawinkan sesama kerabat di istana dari generasi ke generasi sampai raja terakhirnya lahir dengan cacat berat.
Dan ada satu hal kecil yang jarang diceritakan, tapi mengatakan banyak. Selama berabad-abad, kebiasaan mandi di Eropa justru ditinggalkan. Air dicurigai membawa penyakit, pemandian umum ditutup, dan mandi terlalu sering dianggap membahayakan tubuh. Kota-kota mereka membuang kotoran ke jalan dan ke sungai yang sama dengan sumber air minumnya, sampai wabah datang berulang kali.
Sementara itu, di tanah-tanah yang mereka sebut belum beradab, orang mandi dua kali sehari di sungai yang mereka jaga kejernihannya.
Maka pertanyaannya berbalik dengan sendirinya: siapa sebenarnya yang belum beradab?
Saya tidak menuliskan ini untuk membalas dendam atau merendahkan siapa pun. Saya menuliskannya untuk menunjukkan satu hal: sering kali kata “beradab” tidak benar-benar berarti “lebih baik”. Ia hanya berarti “lebih kuat”. Yang menang adalah yang menulis sejarah, dan dalam sejarah itu ia menyebut dirinya sendiri beradab.
Dan cermin itu menghadap kita juga
Sampai di sini mudah bagi kita untuk merasa aman. Itu kesalahan orang Eropa, ratusan tahun lalu, jauh dari sini. Kita tidak ikut-ikutan.
Tapi cermin itu tidak berhenti di sana.
Kita, yang merasa sebagai manusia modern dan berpikiran maju, memandang masyarakat Kanekes — yang lebih dikenal sebagai orang Baduy — sebagai orang yang tertinggal. Tidak bersekolah seperti kita. Tidak memakai kendaraan. Tidak punya listrik. Kita mengasihani mereka, dan diam-diam merasa lebih tinggi.
Lalu mari kita hitung.
Mereka mandi di sungai tanpa sabun, sampo, dan pasta gigi, sebab mereka tahu busa itu akan mengalir ke air yang mereka minum dan ke ikan yang mereka makan. Sebagai gantinya mereka memakai daun, batu, sabut kelapa, dan batang honje. Kita memakai sabun setiap hari, membuang limbahnya ke sungai — lalu membeli air minum dalam kemasan plastik, karena sungai di dekat rumah kita sudah tidak bisa diminum.
Mereka menanam padi tanpa mencangkul, sebab menurut aturan adatnya tanah tidak boleh dibalik. Benih cukup ditugal — dilubangi seperlunya, lalu ditutup kembali. Mereka juga dilarang memakai pupuk dan pestisida kimia, karena bahan itu dipercaya mengubah kandungan tanah sampai tidak sehat lagi bagi tanaman. Kita menyuburkan tanah dengan bahan kimia sampai tanahnya kehilangan daya hidupnya sendiri, lalu menambah dosisnya setiap musim.
Mereka menyimpan padi di leuit — lumbung yang isinya tidak boleh dijual — dan padi itu bisa bertahan bertahun-tahun. Akibatnya mereka tidak pernah mengalami krisis pangan, dan banyak keluarga Baduy yang seumur hidupnya belum pernah membeli beras. Kita menjual beras kita, lalu panik setiap kali harganya naik.
Mereka menetapkan sebagian hutan sebagai wilayah yang tidak boleh disentuh siapa pun, dan batas-batasnya diperiksa setiap tiga bulan sekali. Larangan itu dipatuhi tanpa perlu polisi. Kita membuat undang-undang perlindungan hutan, lalu mengeluarkan izin untuk membabatnya.
Lalu, dengan ukuran apa sebenarnya kita merasa lebih maju?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus meninggalkan sekolah, listrik, dan obat-obatan, lalu pindah ke hutan. Itu bukan maksud saya sama sekali. Sekolah itu baik. Listrik itu baik. Obat yang menyembuhkan itu baik.
Dan saya juga tidak sedang berkata bahwa merekalah yang lebih beradab, dan kita yang biadab. Kalau saya berkata begitu, saya hanya membalik arah tuduhan tanpa membuang tuduhannya.
Yang saya katakan adalah sesuatu yang lebih mendasar: peringkat itu sendiri tidak sah.
Bayangkan seseorang yang sangat pintar matematika, lalu memandang rendah orang lain yang tidak bisa berhitung. Padahal orang yang ia rendahkan itu mungkin pelukis yang hebat, atau pelari yang paling cepat di kampungnya. Siapa yang lebih tinggi di antara mereka berdua?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab, bukan karena sulit, tapi karena pertanyaannya memang salah. Mereka berdua tidak sedang diukur dengan alat ukur yang sama. Tidak ada satu tangga yang bisa dipakai untuk mengurutkan semua manusia dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Tangga seperti itu tidak pernah ada. Yang biasanya membuatnya adalah orang yang kebetulan merasa dirinya berdiri paling atas.
Maka menyebut sebuah masyarakat “belum beradab” bukan hanya kasar. Ia salah sejak dasarnya, karena ia menganggap tangga itu ada, padahal tidak.
Kekeliruan seperti inilah yang dipakai bangsa Eropa. Mereka punya kapal yang lebih besar dan senapan yang lebih jauh jangkauannya, lalu mereka menyimpulkan bahwa mereka juga lebih benar dan lebih pantas menentukan nasib orang lain. Padahal kapal dan senapan hanya membuktikan satu hal: mereka lebih kuat. Dari kesimpulan yang keliru itulah lahir perampasan, perbudakan, dan pembantaian.
Kalau hari ini kita memandang orang Baduy dengan cara berpikir yang sama, kita sedang memakai cara berpikir yang sama pula. Bedanya hanya satu: kita tidak punya kapal dan senapan untuk melanjutkannya.
Menilai perbuatan, bukan menilai manusia
Di sini saya harus berhenti dan menarik satu garis dengan tegas, sebab kalau tidak, semua yang saya tulis di atas bisa berbalik menjadi alasan untuk tidak menilai apa pun.
Mimitianisme tidak mengatakan bahwa segala hal sama benarnya dan tidak ada yang boleh dipersoalkan. Kalau begitu, ia tidak akan berguna bagi siapa pun.
Garisnya begini: menilai perbuatan itu boleh. Menilai manusia itu tidak.
“Menyiksa itu salah” adalah penilaian atas perbuatan, dan ia sah — berlaku bagi siapa pun, di mana pun, tanpa peduli suku dan bangsanya. “Kalian adalah bangsa yang lebih rendah” adalah penilaian atas manusia, dan ia tidak pernah sah, sekalipun diucapkan dengan niat baik.
Bedanya bukan soal kesopanan. Yang pertama menunjuk pada satu perbuatan yang bisa dihentikan. Yang kedua menunjuk pada seluruh diri seseorang, yang tidak bisa ia lepaskan — dan dari sanalah selalu lahir pembenaran untuk merampas, mengusir, dan membunuh.
Orang yang paling keras menuduh orang lain biadab biasanya justru punya banyak urusan di rumahnya sendiri yang belum ia selesaikan.
Hak atas tanah: siapa yang lebih dulu ada
Dari prinsip mimiti lahir pula hak yang paling sering dirampas sepanjang sejarah: hak atas tanah.
Ketika bangsa-bangsa Eropa tiba di Amerika dan Australia, tanah itu tidak kosong. Sudah ada manusia di sana, dengan bahasa, kepercayaan, sistem sosial, dan cara hidup yang telah berjalan ribuan tahun. Namun tanah itu tetap diambil. Dan yang paling perlu kita perhatikan bukanlah perampasannya, melainkan alasan yang dipakai untuk membenarkannya.
Di Australia, hukum kolonial menyatakan benua itu sebagai terra nullius — tanah yang tidak dimiliki siapa pun. Padahal manusia sudah tinggal di sana selama puluhan ribu tahun. Mereka dianggap tidak memiliki tanah karena mereka tidak memilikinya dengan cara yang dikenali hukum Eropa: tidak berpagar, tidak bersertifikat, tidak dibajak. Kekeliruan itu baru dibatalkan oleh pengadilan Australia sendiri pada 1992.
Di Amerika Utara, ribuan orang dari bangsa-bangsa asli dipaksa meninggalkan tanah leluhurnya dan berjalan kaki ratusan kilometer ke wilayah yang asing bagi mereka. Banyak yang mati di perjalanan. Dan selama lebih dari satu abad, anak-anak mereka diambil dari keluarganya, dimasukkan ke sekolah asrama, dilarang berbicara dengan bahasa ibunya, dan diajari bahwa segala yang datang dari orang tuanya adalah kemunduran. Di Australia, hal yang sama terjadi pada anak-anak Aborigin.
Apa pembenarannya? Selalu satu kalimat yang sama: mereka belum beradab.
Mereka dianggap tidak cukup maju, tidak cukup pintar, tidak cukup manusia. Dan dari penilaian itulah lahir kesimpulan bahwa tanah mereka boleh diambil, anak mereka boleh direnggut, bahasa mereka boleh dihapus — semuanya demi kebaikan mereka sendiri.
Di sinilah Mimitianisme berdiri dan berkata: hak tidak pernah bergantung pada penilaian orang lain terhadapmu.
Mereka berhak atas tanah itu bukan karena mereka maju, bukan karena mereka berguna, bukan karena mereka lulus ujian peradaban yang dibuat oleh orang yang baru datang. Mereka berhak karena mereka sudah lebih dulu ada. Itu saja, dan itu sudah cukup.
Dan inilah alasan mengapa saya begitu keras menolak kegunaan sebagai syarat hak, seperti yang saya tulis di awal. Sebab begitu kita menerima bahwa hak boleh diukur dari maju atau tidaknya seseorang, kita sedang menyiapkan alasan yang persis sama untuk dipakai orang lain terhadap kita di kemudian hari. Hanya namanya saja yang akan berganti.
Karena setiap manusia, apapun latar belakangnya, berhak diperlakukan sebagaimana ia sendiri tidak ingin disakiti.
Pilar Ketiga: Hak Asasi Hewan
Kita bukan satu-satunya makhluk yang merasakan sakit dan ingin hidup. Hewan punya kondisi alami mereka — habitat, rantai makanan, cara hidup yang sudah ada jauh sebelum manusia datang.
Pilar ini paling sering disalahpahami. Maka izinkan saya menjelaskannya pelan-pelan.
Yang dipersoalkan Mimitianisme bukanlah membunuh. Yang dipersoalkan adalah menyakiti. Membunuh hanyalah bentuk paling akhir dari menyakiti — bukan satu-satunya, dan bukan pula ukurannya.
Sebab hewan bisa disakiti tanpa dibunuh. Ia bisa dipukul. Dikurung di kandang yang tidak muat untuk berbalik badan. Disetrum agar melompat, dijerat agar menari, dilukai agar menghibur penonton. Tidak satu pun dari perbuatan itu membunuhnya. Semuanya tetap pelanggaran.
Dan ukurannya bukan seberapa sering, seberapa lama, atau seberapa parah. Sekali pukul tanpa alasan sudah merupakan pelanggaran. Tidak ada jatah pertama yang boleh dipakai.
Lalu bagaimana dengan petani yang mengusir hama?
Inilah pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya harus diberikan dengan hati-hati — sebab di sinilah letak seluruh pilar ini.
Petani boleh mengusir hama dari sawahnya. Tapi izin itu bukan karena sawah itu miliknya.
Saya harus tegas di sini, karena kalau kepemilikan dijadikan dasar, seluruh Mimitianisme akan runtuh dalam satu kalimat. Kalau memiliki sesuatu berarti boleh berbuat apa saja terhadapnya, maka orang bisa berkata: “Ini ayam saya, saya beli dengan uang saya, maka saya boleh menyiksanya.” Kalimat itu jelas salah. Berarti kepemilikan tidak pernah memberi hak untuk menyakiti — dan ia juga tidak bisa dipakai untuk membenarkan petani.
Ada satu masalah lagi. Sawah itu dulunya apa? Hutan, rawa, atau padang. Tikus dan burung sudah ada di situ sebelum petani datang. Kalau “siapa pemiliknya” dijadikan ukuran, Mimitianisme justru akan berbalik menuduh petani — dan itu jelas bukan maksudnya.
Yang membenarkan petani adalah pilar pertama: ia harus makan.
Petani mengusir hama bukan karena “ini tanahku, terserah aku”, tapi karena kalau ia diam saja, sawahnya habis dan keluarganya kelaparan. Itu adalah hak atas diri sendiri — hak untuk hidup, hak untuk sehat. Sah sepenuhnya, tanpa perlu menyebut sertifikat tanah sama sekali.
Perbedaan ini bukan sekadar main kata. Lihat akibatnya.
Kalau dasarnya kepemilikan, maka pintunya terbuka lebar: tanahku, terserah aku — boleh membakar hama hidup-hidup, boleh membasminya sampai habis, dan orang yang punya tanah luas otomatis punya hak yang lebih besar daripada yang tidak punya.
Kalau dasarnya kebutuhan, pintunya hanya terbuka seperlunya: aku harus makan — maka aku berhenti begitu sawahku aman. Tidak lebih. Dan yang terpenting, hak itu berlaku sama bagi semua orang, termasuk penggarap dan buruh tani yang tidak memiliki sejengkal pun tanah yang mereka kerjakan. Di negeri ini, mereka justru mayoritas.
Kepemilikan adalah pintu yang terbuka lebar. Kebutuhan adalah pintu yang hanya terbuka seperlunya.
Ujinya: apakah rasa sakit itu bisa dihindari?
Dari sini lahirlah satu pertanyaan yang bisa dipakai untuk menguji perbuatan apa pun terhadap hewan.
Apakah rasa sakit itu bisa dihindari tanpa mengorbankan hak yang lain? Kalau bisa dihindari, maka ia harus dihindari.
Petani tidak bisa menyelamatkan sawahnya tanpa mengusir hama. Rasa sakit hama itu bukan karena petani ingin menyakiti, melainkan karena memang tidak ada jalan lain. Sedangkan orang yang menyiksa kucing tidak kehilangan apa pun kalau ia berhenti — ia hanya kehilangan kesenangan. Di sinilah bedanya: yang satu terpaksa, yang satu memilih.
Sengaja saya tidak memakai kata “alasan”, karena alasan terlalu mudah dikarang. Orang yang menyiksa kucing pun punya alasan: ia senang. Peternak yang mengurung ayam sampai tak bisa bergerak juga punya alasan: itu lebih murah. Kalau sekadar punya alasan sudah cukup, maka semuanya boleh, dan pilar ini kehilangan artinya.
Yang menentukan bukan ada atau tidaknya alasan, melainkan apakah rasa sakit itu sungguh-sungguh tidak terhindarkan.
Dan sekalipun tidak terhindarkan, ia tetap terikat satu syarat: seperlunya, tidak lebih. Petani boleh mengusir tikus dari sawahnya. Petani tidak boleh menyiksa tikus untuk bersenang-senang, karena itu sudah melewati apa yang diperlukan untuk menyelamatkan sawah.
Perlu saya tegaskan juga: membela diri dan memenuhi kebutuhan bukanlah izin. Keduanya adalah keterpaksaan. Dan keterpaksaan tidak pernah menyenangkan — begitu seseorang mulai menikmatinya, ia sudah tidak sedang membela apa pun.
Tentang makan daging
Manusia makan. Sejak awal, manusia adalah bagian dari rantai makanan itu sendiri, dan Mimitianisme tidak menuntut siapa pun keluar dari rantai yang sudah ada sejak mula.
Tapi kebutuhan bukanlah cek kosong. Syaratnya sama: seperlunya, tidak berlebihan, dan dengan cara yang paling sedikit menyakiti — bukan hanya saat mengambilnya, tapi juga selama hewan itu hidup di tangan kita.
Sebab rasa sakit yang benar-benar tidak bisa dihindari hanya satu: kematian itu sendiri. Selebihnya bisa dihindari. Kandang yang layak bisa diberikan. Cara menyembelih yang paling cepat bisa dipilih. Kalau semua itu sebenarnya bisa dihindari tapi tetap dilakukan, maka itu bukan lagi kebutuhan. Itu kesewenangan, hanya saja diberi nama penghematan biaya.
Dan yang paling jauh: memusnahkan
Merampas habitat sampai tidak tersisa. Memburu sampai spesiesnya habis. Inilah bentuk kesewenangan yang paling jauh, karena ia melanggar dua hak sekaligus: hak setiap makhluk yang disakitinya, dan hak jenisnya untuk tetap ada di bumi.
Ketika satu spesies musnah, rantai kehidupan yang telah dibangun selama jutaan tahun ikut terguncang — dan pada akhirnya, manusialah yang menanggung akibatnya. Tapi ingat, akibat itu bukanlah alasan mengapa mereka berhak. Akibat itu hanyalah bukti bahwa hak mereka memang nyata.
Dan pada akhirnya, semua ini kembali ke kalimat yang sudah saya tulis di pilar pertama: karena kamu tahu rasanya tidak ingin disakiti, maka lahirlah tanggung jawab untuk tidak menyakiti. Kalimat itu tidak berhenti pada manusia. Hewan juga merasakan sakit, dan sakitnya sama nyatanya dengan sakit kita.
Pilar Keempat: Hak Asasi Lingkungan Hidup
Hutan yang dari awalnya ada, sungai yang dari awalnya mengalir jernih, ekosistem yang dari awalnya seimbang — semuanya punya hak untuk tetap ada.
Inilah pilar yang paling luas cakupannya, sekaligus yang paling sering diperlakukan sebagai urusan belakangan. Padahal ia adalah rumah tempat ketiga pilar sebelumnya berdiri. Manusia tidak bisa sehat di udara yang beracun. Hewan tidak bisa hidup tanpa habitat. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghargai dirinya sendiri sambil meminum air yang membunuhnya pelan-pelan.
Perubahan bukan perusakan
Alam berubah dengan sendirinya. Gunung meletus dan menutup lembah dengan abu. Sungai berpindah alur. Hutan terbakar oleh petir, lalu tumbuh lagi. Itu semua bukan pelanggaran — itu justru bagian dari sistem yang sudah berjalan sejak mula.
Yang dipersoalkan Mimitianisme bukanlah perubahan, melainkan perusakan. Dan bedanya sederhana: perubahan alamiah selalu diikuti pemulihan, sedangkan perusakan meninggalkan luka yang tidak menutup.
Hutan yang terbakar oleh petir akan hijau kembali dalam beberapa tahun. Hutan yang dibabat lalu tanahnya dikeruk untuk tambang tidak akan pernah kembali menjadi hutan.
Mengambil boleh, menghabiskan tidak
Ujinya sama persis seperti pada pilar hewan: apakah kerusakan itu bisa dihindari tanpa mengorbankan hak yang lain?
Orang yang menebang pohon untuk membangun rumahnya sedang memenuhi kebutuhan — dan itu sah. Ia butuh berteduh. Sama seperti petani yang mengusir hama, ia tidak sedang menikmati kerusakan; ia sedang bertahan hidup.
Tapi kebutuhan tetap terikat syarat yang sama: seperlunya, tidak lebih. Menebang satu pohon untuk rumah adalah satu hal. Membabat seluruh lerengnya lalu menjualnya adalah hal yang sama sekali lain.
Dan di sinilah kearifan yang saya sebut sebelumnya menemukan tempatnya. Sasi, lubuk larangan, hutan yang tidak boleh disentuh — semuanya menjawab pertanyaan yang sama, jauh sebelum pertanyaan itu dirumuskan: berapa banyak yang boleh diambil agar yang tersisa masih sempat pulih?
Merusak berarti berutang
Di awal tulisan ini saya menulis: apabila dirusak, harus ada pertanggungjawaban; apabila dihancurkan, harus ada pemulihan. Kalimat itu perlu saya tegaskan sekarang.
Memulihkan bukanlah kebaikan hati. Ia adalah utang.
Perusahaan yang menanam kembali beberapa pohon setelah mengeruk sebuah bukit sering diberitakan seolah sedang berbuat mulia. Padahal ia sedang mencicil — dan sering kali cicilan itu jauh lebih kecil daripada utangnya. Bukit yang sudah diratakan tidak kembali menjadi bukit hanya karena ditanami rumput.
Maka Mimitianisme menuntut kejujuran dalam berhitung. Pemulihan diukur dari apa yang dirusak, bukan dari apa yang enak dipamerkan.
Jangan salah alamat
Ada satu hal yang harus saya katakan, karena sering kali kemarahan atas kerusakan lingkungan justru menghantam orang yang paling tidak berdaya.
Petani yang membuka sepetak lahan untuk hidup, nelayan yang melaut dengan perahu kecil, orang kampung yang mengambil kayu bakar — mereka bukan penyebab utama kerusakan bumi, dan tidak adil kalau merekalah yang paling sering dituding.
Seperti halnya kalimat “sudah dari dulu begitu”, kerusakan terbesar hampir selalu datang dari yang paling berkuasa — sebab hanya merekalah yang punya alat untuk merusak dalam ukuran sebesar itu. Satu orang tidak bisa mengeringkan sungai. Satu keluarga tidak bisa meratakan gunung. Diperlukan modal, izin, dan mesin untuk melakukan itu.
Mimitianisme menuntut kita menuding ke arah yang benar.
Dan bukan karena kita membutuhkannya
Saya harus menutup pilar ini dengan penegasan yang sama seperti yang saya tulis di awal, karena di sinilah ia paling mudah dilupakan.
Sungai berhak mengalir jernih bukan karena kita meminum airnya. Hutan berhak berdiri bukan karena ia menyerap karbon kita. Gunung berhak utuh bukan karena ia menahan air untuk sawah kita.
Mereka berhak karena mereka sudah lebih dulu ada.
Memang benar bahwa apa yang kita lakukan terhadap alam pada akhirnya akan berbalik kepada kita sendiri — banjir datang ke kota yang hulunya digunduli, dan udara yang kotor masuk ke paru-paru anak-anak kita. Tapi ingat baik-baik: itu bukan alasan mengapa alam berhak. Itu hanyalah bukti bahwa haknya memang nyata.
Sebab kalau kegunaan yang kita jadikan dasar, maka begitu kita menemukan pengganti buatan untuk apa pun yang selama ini diberikan alam, kita akan merasa berhak menghabiskan sisanya. Dan pada saat itu tidak ada satu pun alasan yang bisa kita pakai untuk mencegahnya.
Keempat pilar ini bukan daftar aturan yang harus dihafal. Ia adalah satu kesatuan cara memandang dunia — di mana setiap kehidupan saling terhubung, dan merusak satu berarti merusak keseluruhan. Urutannya pun bukan urutan kepentingan, melainkan urutan tumbuh: yang belakangan tidak bisa berdiri tanpa yang mendahuluinya.
Mengapa Mimitianisme Penting Hari Ini?
Kita hidup di era di mana konflik antarmanusia semakin kompleks, keanekaragaman hayati semakin terancam, dan kerusakan lingkungan semakin sulit dibalikkan. Di saat yang sama, banyak dari kita sudah memahami bahwa ada hak yang harus dihormati — hak manusia, hak alam, hak makhluk lain. Tapi pemahaman itu sering kali berjalan sendiri-sendiri, terkotak-kotak, bahkan saling bertabrakan. Ada yang sangat vokal membela hak manusia, namun menutup mata terhadap kerusakan lingkungan. Ada yang berjuang untuk alam, namun abai terhadap hak-hak manusia di sekitarnya. Ada yang peduli terhadap hewan, namun melupakan dirinya sendiri.
Mimitianisme hadir untuk menyatukannya — bukan dengan memilih salah satu, tapi dengan membangun kesadaran yang bulat dan utuh bahwa semua hak itu saling terhubung dan sama pentingnya. Tidak ada hak yang boleh ditegakkan dengan cara menindas atau menghilangkan hak yang lain.
Dan semuanya dimulai dari satu langkah yang paling mendasar: mulai dari diri sendiri.
Seseorang yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri akan secara alami tumbuh menjadi seseorang yang menghargai orang lain. Dan seseorang yang menghargai sesama manusia akan lebih mudah memahami bahwa penghargaan itu tidak boleh berhenti pada manusia saja — ia harus meluas kepada hewan, kepada alam, kepada seluruh kehidupan yang berbagi bumi ini bersama kita.
Tapi saya juga ingin jujur tentang satu hal. Mewarisi nilai yang baik tidak sama dengan memilikinya. Kearifan tidak mengalir dalam darah. Orang Sunda menulis tentang sirah cai, hulu air yang harus dijaga — lalu orang Sunda pula yang menambangnya sampai kering. Justru karena itulah Mimitianisme tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan budaya. Ia harus menjadi sesuatu yang universal, yang bisa dibawa ke mana pun, dan yang harus terus-menerus dipilih ulang setiap hari.
Mimitianisme sejatinya bukan sesuatu yang asing. Ia adalah pemahaman yang selama ini sudah ada di dalam nurani manusia — dan sepatutnya sejalan dengan ajaran agama maupun ideologi apapun yang mengajak kepada kebaikan. Mimitianisme bukan agama, tidak bersaing dengan agama, dan tidak menilai ketulusan siapa pun. Saya sendiri orang beragama. Mimitianisme hanya hadir untuk mengingatkan kembali, dan menyatukannya dalam satu kerangka yang utuh.
Jasutopia dan Mimitianisme
Jasutopia adalah ruang di mana Mimitianisme bertemu dengan dunia nyata.
Di sini saya membahas sejarah, berita terkini, sains, teknologi, geopolitik, budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup — bukan hanya untuk memberitakan apa yang terjadi, tapi untuk membantu memahami mengapa hal itu terjadi dan bagaimana seharusnya kita memandangnya.
Mimitianisme adalah nilai yang saya usahakan hadir dalam setiap tulisan — membimbing cara saya memilih isu, menyusun analisis, dan memandang hubungan antara manusia, hewan, lingkungan, serta masa depan yang kita tinggali bersama. Saya menghadirkan Mimitianisme bukan untuk menggurui, melainkan untuk memperkuat pemahaman kita bersama mengenai hak — sehingga kita punya kesatuan yang kuat dan bulat untuk bersikap adil atas semua hak, dan tidak hanya fokus pada satu hak sambil menindas atau melupakan hak yang lainnya.
Mimitianisme saya hadirkan bukan sebagai kebenaran tunggal yang harus diterima, melainkan sebagai perspektif yang layak direnungkan — sebuah cermin untuk melihat diri sendiri, sesama, dan dunia dengan cara yang lebih jujur.
Visi Jasutopia
Saya membayangkan dunia di mana kemajuan tidak mengorbankan kehidupan.
Dunia di mana setiap orang dihormati martabatnya. Di mana hewan diperlakukan dengan tanggung jawab. Di mana lingkungan hidup dijaga sebagai rumah bersama, bukan dieksploitasi tanpa batas.
Dunia yang lebih baik tidak lahir dari teknologi semata, tidak dari kekuasaan, tidak dari kekayaan. Ia lahir ketika pengetahuan berjalan berdampingan dengan etika. Ketika kebebasan diiringi tanggung jawab. Ketika kemajuan tidak melupakan kehidupan.
Dan semuanya dimulai dari satu langkah yang paling sederhana: menghargai diri sendiri terlebih dahulu.
Itulah mengapa Jasutopia hadir. Dan itulah mengapa Mimitianisme lahir.

