Crazy Rich Asians: Ras, Kelas, dan Hierarki yang Kita Kira Alami

Ia dirayakan sebagai kemenangan representasi Asia di Hollywood. Tetapi film 2018 itu membalik satu tangga ras sekaligus mengulang tangga yang lain — dan mengingatkan bahwa hierarki yang tampak alami sebenarnya dibuat oleh sejarah, kekayaan, dan kebiasaan. Sebuah tinjauan dari hari ini.

Ketika Crazy Rich Asians tayang pada 2018, ia langsung diperlakukan sebagai peristiwa, bukan sekadar film. Ia adalah film besar pertama dari studio Hollywood dengan pemeran hampir seluruhnya Asia sejak The Joy Luck Club pada 1993 — jeda dua puluh lima tahun — dan meraup lebih dari 238 juta dolar dari anggaran yang hanya 30 juta. Bagi banyak penonton Asia-Amerika, melihat wajah mereka memenuhi layar bioskop arus utama terasa seperti kemenangan.

Tetapi kemenangan bagi siapa? Ditonton dari Singapura, tempat ceritanya berlangsung, dan ditonton ulang dari hari ini, film itu sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih rumit daripada representasi: tentang tangga sosial — siapa di atas, siapa di bawah, dan siapa yang bahkan tak masuk bingkai. Argumen tulisan ini sederhana. Film ini terasa nikmat justru karena membalik satu hierarki ras; tetapi pada saat yang sama, ia diam-diam membiarkan hierarki lain tetap berdiri. Dan keduanya — yang dijungkirbalikkan maupun yang dibiarkan — sesungguhnya bukan hukum alam, melainkan buatan sejarah.

I · Dongeng yang Membalik Tangga

Ada satu adegan pembuka yang menjelaskan seluruh daya tarik film ini. Tahun 1995, London, hujan deras. Keluarga Young — orang Asia, kaya raya, tetapi basah kuyup — mendatangi sebuah hotel mewah yang sudah mereka pesan. Resepsionis kulit putih menolak mereka, berpura-pura kamar penuh, dan menyarankan mereka mencari penginapan “di kawasan pecinan”. Beberapa menit kemudian keluarga itu kembali dengan kabar: mereka baru saja membeli hotel tersebut. Para staf yang tadi meremehkan cuma bisa terpaku.

Sepanjang film, pola itu berulang. Rachel Chu, profesor Tionghoa-Amerika, mengalahkan seorang Amerika kulit putih dalam permainan kartu di depan banyak mata. Eleanor Young berbicara tentang bagaimana keluarga Asia membangun segalanya dengan tangan sendiri. Pesannya jelas dan memuaskan: stereotip lama — bahwa orang Asia lebih miskin, lebih rendah, kurang layak dibanding orang Barat — dijungkirbalikkan. Di dunia Crazy Rich Asians, orang Asialah yang memegang uang, selera, dan kuasa. Bagi penonton yang lelah melihat orang Asia cuma jadi figuran, pembalikan ini terasa seperti udara segar. Bukan kebetulan pula bahwa inilah satu-satunya adegan penting yang melibatkan aktor kulit putih di sepanjang film.

II · Tangga yang Tetap Berdiri

Persoalannya, film ini membalik tangga “Barat di atas Asia”, tetapi membiarkan tangga lain berdiri utuh: tangga di dalam Asia itu sendiri. Cerita berlangsung di Singapura, negara yang penduduknya kira-kira tiga perempat Tionghoa, sekitar 13 persen Melayu, dan sekitar 9 persen India. Namun di layar, nyaris semua tokoh kaya dan berkuasa adalah Tionghoa. Orang Melayu dan India hampir selalu muncul cuma sebagai latar: penjaga gerbang Sikh berbadan besar yang membuat dua tokoh ketakutan, penjual satai Melayu yang bahkan tak diperlihatkan wajahnya, para pelayan di pesta orang kaya.

Kritik atas hal ini muncul deras begitu film tayang. Ian Chong, ilmuwan politik dari National University of Singapore, menyebut film itu menampilkan “yang terburuk dari Singapura” — menghapus kaum minoritas dan orang miskin, menyisakan hanya orang Tionghoa yang kaya. Sangeetha Thanapal, penulis dan aktivis Singapura-India yang mempopulerkan istilah “hak istimewa Tionghoa” (Chinese privilege), menunjuk bahwa segelintir orang berkulit lebih gelap di film itu hampir semuanya tampil sebagai pelayan. Majalah Foreign Policy merangkumnya paling tajam: dalam peta kuasa Singapura, orang Tionghoa-Singapura yang super kaya justru menempati posisi yang di tempat lain biasanya dipegang orang kulit putih.

Dalam konteks kuasa di Singapura, orang Tionghoa super kaya adalah “orang kulit putih”-nya.Rangkuman kritik Foreign Policy atas film ini, 2018

Inilah yang membuat film itu, meski terasa membebaskan, tetap timpang. Ia menolak satu hierarki hanya untuk memperlihatkan — tanpa mempertanyakannya — hierarki yang lain. Dan pengamatan ini bukan hal baru bagi orang Singapura sendiri. Dalam kajian Everyday Racism in Singapore, sosiolog Selvaraj Velayutham mencatat kesaksian orang-orang India-Singapura yang kerap diperlakukan dengan curiga dan direndahkan dalam keseharian, sementara orang kulit putih justru mendapat rasa hormat berlebih. Tanpa sengaja, film itu memotret persis kebiasaan yang dikritik Velayutham.

III · “Ras” Itu Dibuat, Bukan Ditemukan

Untuk memahami mengapa tangga-tangga ini ada, kita perlu mundur sejenak. Ada anggapan umum bahwa “ras” adalah kenyataan biologis yang keras — bahwa umat manusia terbagi rapi menjadi beberapa ras dengan sifat bawaan masing-masing. Anggapan itu keliru. Penggolongan manusia ke dalam “ras” bukan temuan ilmu pengetahuan, melainkan bentukan sejarah: ia dirumuskan para naturalis Eropa abad ke-18 seperti Linnaeus dan Blumenbach, lalu dipakai untuk menyusun manusia secara bertingkat.

Di sini satu koreksi perlu dibuat. Charles Darwin sering dituding sebagai bapak rasisme ilmiah, padahal itu tidak tepat. Gagasan ras sudah ada jauh sebelum Darwin. Yang terjadi kemudian adalah teorinya dipelintir: frasa survival of the fittest bahkan bukan buatan Darwin, melainkan Herbert Spencer, dan aliran yang belakangan disebut Darwinisme Sosial memakai bahasa seleksi alam untuk membenarkan penjajahan — seolah bangsa yang berhasil menaklukkan memang “lebih unggul” secara alami. Sains disalahgunakan untuk memberi stempel “alamiah” pada sesuatu yang sepenuhnya politis: penaklukan. Imperialisme dan kolonialisme Eropa lalu berjalan dengan pembenaran itu. Sejak awal, tangga ras adalah alat kekuasaan, bukan peta kenyataan.

IV · Mitos “Pribumi Malas”

Tangga itu juga tidak berhenti di Singapura. Film ini memang berlatar di sana, tetapi hierarki yang dipotretnya adalah bagian dari warisan yang jauh lebih luas — membentang se-Nusantara, dari Semenanjung Malaya sampai kepulauan Filipina. Contoh paling jernihnya adalah satu stereotip yang bertahan sampai sekarang: bahwa orang Melayu — dan, dalam versi lain, orang Jawa, Sunda, serta Filipino — miskin karena malas. Stereotip ini nyaris menjadi akal sehat di banyak tempat. Tetapi ia adalah mitos, dan ada satu buku yang membongkarnya secara telak.

Pada 1977, sosiolog Syed Hussein Alatas — yang kebetulan lahir di Bogor — menerbitkan The Myth of the Lazy Native. Ia menelusuri citra “pribumi malas” dari abad ke-16 sampai ke-20 dan menunjukkan bahwa citra itu sengaja dibangun oleh kekuasaan kolonial untuk membenarkan eksploitasi. “Malas” sebenarnya berarti menolak: para petani pribumi enggan membanting tulang sebagai kuli murah di perkebunan kolonial dengan syarat yang ditetapkan penjajah — dan penolakan itu dicap kemalasan. Yang lebih tajam, Alatas menunjukkan bagaimana mitos itu akhirnya ditelan mentah-mentah oleh sebagian pemimpin bekas jajahan sendiri; ia secara khusus mengkritik penjelasan “budaya” Mahathir Mohamad tentang keterbelakangan Melayu dalam The Malay Dilemma.

Artinya, menjelaskan kemiskinan Melayu dengan “kemalasan” bukan sekadar kasar — ia keliru secara faktual, dan celakanya mengulang persis propaganda kolonial. Kemiskinan yang diwariskan oleh struktur — tanah yang dirampas, ekonomi yang ditata demi kepentingan penjajah, akses pendidikan yang ditutup — disulap seolah menjadi cacat bawaan sebuah bangsa. Ini perlu ditegaskan justru karena stereotip semacam itu masih hidup di Nusantara, termasuk di antara kita yang sebenarnya menjadi korbannya.

Yang lebih pahit, warisan kolonial itu kerap justru dipelihara oleh para penguasa di Nusantara sendiri — sesuatu yang Alatas sebut “minda tertawan” (captive mind): stereotip dan struktur bikinan penjajah tidak lenyap saat bendera diturunkan, melainkan diwarisi, kadang dengan sadar, oleh elite baru. Di Malaysia, ia sudah kita temui tadi, dalam suara Mahathir. Di Indonesia dan Filipina, ia mengeras menjadi hukum tanah — dan polanya nyaris kembar.

Belanda mewariskan domeinverklaring, doktrin bahwa semua tanah tanpa bukti hak pribadi adalah milik negara; Spanyol mewariskan Regalian Doctrine (jura regalia) yang berbunyi hampir sama. Keduanya tidak dibongkar setelah kemerdekaan, melainkan diteruskan. Di Indonesia, lewat Undang-Undang Kehutanan 1999, negara memperlakukan hutan adat sebagai “hutan negara” lalu menyerahkannya kepada pemilik modal melalui izin konsesi — sampai Mahkamah Konstitusi, lewat Putusan No. 35/PUU-X/2012 pada 2013, menegaskan bahwa hutan adat bukan hutan negara. Di Filipina, Regalian Doctrine bahkan diabadikan dalam konstitusi 1935, 1973, dan 1987, dan baru sebagian diimbangi oleh Undang-Undang Hak Masyarakat Adat (IPRA) pada 1997. Penjajahnya berbeda, doktrinnya seragam: tanah leluhur disulap menjadi milik negara, lalu perampasan lama berjalan dengan bendera baru.

V · Layar sebagai Cermin dan sebagai Tangga

Ditinjau dari hari ini, warisan Crazy Rich Asians memang bercabang dua. Di satu sisi, ia betul-betul membuka pintu: kesuksesannya mematahkan anggapan lama Hollywood bahwa cerita yang berpusat pada tokoh Asia tak bisa laku, dan sesudahnya lebih banyak film berpemeran Asia memperoleh tempat. Di sisi lain, titik butanya menyulut perdebatan yang sampai kini belum reda — soal siapa yang sebenarnya terhitung “Asia”, dan soal warna kulit yang lebih disukai kamera.

Hierarki itu bahkan menyusup ke balik layar. Adele Lim, salah satu penulis naskah yang membawa detail otentik Singapura dan Malaysia ke dalam film, mundur dari proyek lanjutannya setelah ditawari bayaran yang jauh lebih rendah — dilaporkan sekitar seperdelapan — dibanding rekan penulisnya. Sebuah film tentang ketimpangan ternyata dibayangi ketimpangan dalam pembuatannya sendiri. Sekuel layar lebarnya pun tak kunjung terwujud; rencana itu kini diubah menjadi serial di layanan Max, dengan Lim sebagai showrunner. Kisahnya belum tamat — tetapi pelajarannya sudah terang: representasi bukan cuma soal hadir di layar, melainkan soal hadir sebagai apa, dan siapa yang memegang kendali.

VI · Penutup

Ada satu hal dari naskah asal tulisan ini yang tetap saya pegang: bahwa kita berasal dari sumber yang sama, sekaligus tumbuh menjadi berbeda-beda, dan perbedaan itu layak dihormati. Tetapi menghormati perbedaan tidaklah sama dengan menerima tangga yang menyusun perbedaan menjadi tinggi dan rendah. Barat di atas Asia, Tionghoa di atas Melayu dan India, kaya di atas miskin — semuanya tampak alami hanya karena sudah lama berdiri dan terlalu sering diceritakan ulang. Padahal tak satu pun darinya hukum alam. Semuanya dibangun oleh penaklukan, oleh kekayaan, dan oleh kebiasaan bercerita.

Di situlah nilai sekaligus keterbatasan sebuah film seperti Crazy Rich Asians. Ia memperlihatkan betapa nikmatnya membalik satu tangga — dan betapa mudahnya membiarkan tangga yang lain tetap tegak. Tugas kita bukan ikut bersorak karena akhirnya “kaum kita” naik ke atas, melainkan bertanya untuk apa tangga itu ada. Dan pertanyaan itu terasa paling mendesak di rumah sendiri, di Nusantara, tempat mitos-mitos lama tentang siapa yang unggul dan siapa yang malas masih berbisik sampai hari ini.

Daftar Pustaka

  • Al Jazeera. (2018, 2 September). Crazy Rich Asians: The return of Sham-East Asia? aljazeera.com
  • Alatas, S. H. (1977). The myth of the lazy native: A study of the image of the Malays, Filipinos and Javanese from the 16th to the 20th century and its function in the ideology of colonial capitalism. London: Frank Cass.
  • BBC News. (2018, 10 Desember). Crazy Rich Asians underwhelms at Chinese box office. bbc.com
  • Darwin, C. (1859). On the origin of species. London: John Murray.
  • Deadline. (2025, 24 Oktober). Jon M. Chu shares ‘Crazy Rich Asians’ series update. deadline.com
  • Foreign Policy. (2018, 17 Agustus). Hollywood has no time for Crazy Poor Asians. foreignpolicy.com
  • Ito, R. (2018, 8 Agustus). ‘Crazy Rich Asians’: Why did it take so long to see a cast like this? The New York Times. nytimes.com
  • Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2013). Putusan Nomor 35/PUU-X/2012: Pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. mkri.id
  • Republik Filipina. (1997). Republic Act No. 8371: The Indigenous Peoples’ Rights Act of 1997 (IPRA).
  • Variety. (2019, 5 September). Adele Lim keluar dari sekuel ‘Crazy Rich Asians’ akibat kesenjangan bayaran.
  • Velayutham, S. (2009). Everyday racism in Singapore. Dalam A. Wise & S. Velayutham (Ed.), Everyday multiculturalism. London: Palgrave Macmillan.