Oleh: Jasutopia | Lensa Mimitianisme
Pernahkah kita begitu sibuk memperjuangkan hak orang lain hingga lupa bahwa diri sendiri pun punya hak yang sama? Atau sebaliknya — begitu terpusat pada kepentingan diri hingga tidak menyadari bahwa di luar sana ada manusia, hewan, dan alam yang juga berhak hidup dengan layak?
Di sinilah Mimitianisme hadir. Bukan sebagai agama, bukan sebagai ideologi politik, melainkan sebagai kerangka etika yang mengajak kita melihat dunia dengan lebih utuh.
Apa Itu Mimitianisme?
Namanya diambil dari kata Sunda mimiti — mula, awal, yang pertama. Tetapi maknanya tidak berhenti di urutan waktu. Mimiti juga berarti keaslian: keadaan sesuatu sebagaimana ia mula-mula ada, sebelum tangan siapa pun mengubahnya.
Dari sanalah Mimitianisme berangkat. Sesuatu berhak atas dirinya bukan karena ia berguna, bukan karena ada yang mengakuinya, melainkan karena ia sudah lebih dahulu ada. Keaslian itu sendiri adalah hak.
Nama boleh lahir dari bahasa lokal, tetapi prinsipnya tidak terkurung di dalamnya. Mimitianisme dapat dibawa ke mana pun, dan diuji di mana pun. Bila ia ternyata selaras dengan nilai-nilai yang sudah lama hidup dalam suatu budaya, itu adalah temuan — bukan asal-usulnya.
Mimitianisme berdiri di atas empat pilar yang saling terhubung, dan urutannya bukan kebetulan:
- Hak Atas Diri Sendiri
- Hak Asasi Manusia
- Hak Asasi Hewan
- Hak Asasi Lingkungan Hidup
Pilar Pertama: Hak Atas Diri Sendiri
Inilah yang membedakan Mimitianisme dari banyak kerangka etika lain. Sebelum berbicara tentang hak orang lain, ia lebih dahulu menyebut hak tubuh kita sendiri: hak untuk beristirahat, hak untuk sehat, dan hak untuk dicintai.
Terlalu sering kita menyaksikan orang yang habis-habisan memperjuangkan keadilan bagi orang lain, sementara diam-diam menyiksa dirinya sendiri. Terlalu sering kita mendengar nasihat untuk selalu mendahulukan orang lain, sampai lupa bahwa diri sendiri pun manusia.
Merawat diri bukan egoisme. Ia adalah fondasi dari segala kebaikan yang lain.
Ada satu hal yang perlu ditegaskan. Hak atas diri sendiri melekat pada setiap orang dan tidak bisa dicabut — bahkan tidak oleh pemiliknya sendiri. Yang bisa hilang bukanlah haknya, melainkan kemampuan merasakannya. Orang yang sakit jiwa, orang yang tubuhnya tidak berfungsi seperti kebanyakan, orang yang sudah tidak sanggup lagi menuntut apa pun: haknya tetap utuh. Ia hanya tidak lagi mampu menyuarakannya.
Selama berabad-abad, keliru memahami hal ini telah menjadi pintu bagi banyak kekejaman. Mimitianisme menutup pintu itu.
Tentu saja hak atas diri sendiri memiliki batas: selama tidak merampas hak orang lain. Menghargai diri tidak boleh berubah menjadi kesombongan.
Pilar Kedua: Hak Asasi Manusia
Dari penghargaan terhadap diri sendiri, Mimitianisme memperluas pandangannya ke sesama.
Tidak ada seorang pun yang memilih dilahirkan dengan warna kulit tertentu, bahasa ibu tertentu, atau tradisi tertentu. Maka tidak ada seorang pun yang berhak menghina, memaksa berubah, atau merendahkan apa yang bukan pilihan orang lain.
Mimitianisme menghormati kebebasan berbudaya — hak setiap orang dan setiap komunitas untuk mewarisi dan merawat identitasnya. Bagi masyarakat adat, hak ini bukan sekadar soal budaya, melainkan soal keberadaan.
Ini bukan penolakan terhadap pertukaran. Dunia selalu bertukar, dan itu wajar. Yang ditolak adalah penghapusan: ketika yang datang tidak menambah, melainkan meniadakan apa yang sudah lebih dahulu ada.
Pilar Ketiga: Hak Asasi Hewan
Hewan pun memiliki hak. Bukan karena mereka berguna bagi kita, melainkan karena mereka sudah lebih dahulu ada.
Ini perlu ditegaskan, sebab kita terbiasa membela hewan dengan menyebut manfaatnya: lebah menyerbuki tanaman, rangkong menanam pohon, ular menekan hama. Semua itu benar. Tetapi manfaat adalah bukti akibat, bukan syarat hak. Bila kegunaan dijadikan syarat, maka siapa pun bisa mencabut hak siapa pun — cukup dengan menyatakan bahwa makhluk itu tidak berguna.
Lalu bagaimana dengan petani yang melindungi sawahnya, atau pedagang yang menjaga dagangannya dari tikus?
Mereka sedang menjalankan pilar pertama: hak atas diri sendiri, hak atas penghidupan. Membela diri adalah sah. Yang ditolak Mimitianisme bukan itu, melainkan memusnahkan — merampas habitat sampai habis, memburu sampai tidak tersisa, menghapus satu jenis kehidupan dari muka bumi. Perbedaannya tidak terletak pada hewannya, melainkan pada perbuatannya.
Dan siapa pun yang memilih memelihara atau menernak hewan menanggung tanggung jawab penuh atas hidup, makan, dan tempat tinggal mereka.
Pilar Keempat: Hak Asasi Lingkungan Hidup
Terakhir, Mimitianisme berbicara tentang bumi.
Hutan bukan sekadar simpanan kayu. Sungai bukan sekadar saluran. Karst bukan sekadar timbunan batu yang menunggu ditambang. Semuanya lebih dahulu ada, jauh sebelum kita menamainya.
Ketika hutan dibakar, bukan hanya pohon yang mati — seluruh jalinan kehidupan ikut runtuh. Ketika sungai tercemar, bukan hanya ikan yang menderita — manusia pun menanggung akibatnya. Ini bukan ancaman, melainkan catatan atas apa yang sudah terjadi berkali-kali.
Mimitianisme tidak melarang manusia mengambil dari alam. Manusia harus makan, harus berteduh, harus hidup. Yang ditolak adalah mengambil sampai tidak ada yang tersisa untuk dikembalikan.
Yang Menahan Tangan Manusia
Ada anggapan bahwa kejahatan lahir dari ketidaktahuan, dan bahwa cukup dengan menjelaskan, orang akan berhenti merusak.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pelaku pencemaran yang melarikan diri tahu betul apa yang telah ia lakukan — justru karena tahu, ia kabur. Orang yang menyembunyikan kejahatannya tahu bahwa perbuatannya salah — justru karena tahu, ia menyembunyikannya.
Pengetahuan tidak menahan tangan mereka. Yang menahan tangan manusia bukanlah tahu, melainkan rasa.
Karena itu Mimitianisme tidak berhenti pada ajakan. Ia membutuhkan hukum. Sebab hukum bekerja pada apa yang orang tahu, bukan pada apa yang orang rasa. Rasa tidak bisa diwajibkan; akibat perbuatan bisa.
Bukan Agama, Bukan Ideologi
Mimitianisme bukan agama. Ia tidak menawarkan keselamatan, tidak menuntut kepercayaan, dan tidak menilai ketulusan siapa pun. Ia juga tidak bersaing dengan agama mana pun, sebagaimana ia tidak bersaing dengan hukum negara.
Ia hanya menawarkan satu cara memandang: bahwa segala sesuatu yang sudah lebih dahulu ada memiliki hak atas keberadaannya — dan bahwa pandangan itu harus dimulai dari diri kita sendiri, sebab dari sanalah semua yang lain bertumpu.
Mengapa Ini Penting Hari Ini
Di tengah krisis iklim, konflik identitas, dan ketimpangan yang makin dalam, Mimitianisme menawarkan sesuatu yang sederhana: hormati yang sudah lebih dahulu ada, dan mulailah dari dirimu sendiri.
Utopia dalam nama Jasutopia bukanlah mimpi kosong, melainkan arah. Dan arah tidak ditempuh dengan lompatan besar. Ia ditempuh dari satu langkah paling sederhana: menghargai diri sendiri terlebih dahulu.
Jasutopia — sejarah, berita, dan Mimitianisme.

