Artikel
- Mimitianisme (4)
- Opini (2)
- Sejarah (12)
-

Trilogi Ukhuwah: Modal Umat Islam Merawat Bhinneka Tunggal Ika
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, meski kedaulatan penuh baru diakui Belanda pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar. Sejak awal, negara ini berdiri di atas keragaman yang luar biasa: ratusan suku bangsa seperti Jawa, Sunda, Melayu, Minangkabau, Batak, Bugis, Dayak, Bali, hingga Papua, ditambah keturunan Arab, Tionghoa, dan India yang sudah lama
-

Menelusuri Genosida Rohingya: Dari Kerajaan Mrauk-U hingga Sidang Mahkamah Internasional 2026
Perserikatan Bangsa-Bangsa berulang kali menyebut Rohingya sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia. Pertengahan 2026, keterangan itu masih sama getirnya: mereka hidup terserak dan tanpa kewarganegaraan—sebagian besar sebagai pengungsi di Bangladesh, sebagian lagi terjebak di tengah perang saudara di Negara Bagian Rakhine—dan orang masih tewas ketika mencoba melarikan diri lewat laut. Di ruang sidang,
-

Kenapa Banyak Orang Sunda Menginginkan Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat, dan Mengapa Sulit Diwujudkan?
Narasi Sejarah: Akar Nama Sunda dan Keinginan Untuk Mengembalikannya Untuk memahami akar sejarah wilayah Pasundan, kita harus mundur jauh ke abad ke-4 ketika Kerajaan Tarumanagara berdiri di tepi Sungai Citarum. Menariknya, nama “Sunda” sebenarnya jauh lebih tua daripada Kerajaan Sunda itu sendiri, sebab istilah tersebut pertama kali muncul sebagai nama ibu kota Sundapura yang dibangun
-

Mimitianisme dan Kearifan Budaya Jawa
Mimitianisme adalah paham yang berakar pada gagasan tentang yang asli, awal, dan mula. Intinya sederhana. Pada manusia, hewan, dan tumbuhan terdapat keadaan awal, yaitu sesuatu yang sejak mula melekat pada mereka, dan keadaan awal itulah yang melahirkan hak untuk hidup bebas, hak untuk menempati ruang hidupnya, hak untuk beristirahat, serta hak-hak lainnya. Kata awal atau
-

Mimitianisme dan Kearifan Budaya Sunda
Oleh: Dermawan Dalam budaya Sunda terdapat nilai-nilai luhur yang selaras dengan Mimitianisme — selaras dalam hak atas diri sendiri, hak asasi manusia, hak asasi hewan, maupun hak asasi lingkungan hidup. Saya perlu menjelaskan lebih dulu apa arti “selaras” di sini, karena kata itu mudah disalahpahami. Mimitianisme tidak lahir dari budaya Sunda. Nilai-nilainya universal; hanya namanya
-

Apa Itu Jasutopia? Mengenal Mimitianisme dan Visi Dunia yang Lebih Adil
Oleh: Dermawan Dunia tidak pernah berhenti bergerak. Setiap hari, perang meletus di suatu sudut bumi. Hutan-hutan yang dulu hijau berganti menjadi abu. Manusia menindas manusia lain atas nama kekuasaan, keuntungan, keserakahan, atau sekadar ketakutan. Di saat yang sama, ilmu pengetahuan melahirkan penemuan yang menakjubkan, budaya-budaya berjumpa dan saling memperkaya — namun di tengah semua itu,
-

Kacamata Mimitianisme: Kedatangan Eropa ke Dunia Baru dan Luka yang Belum Sembuh
Oleh: Jasutopia | Lensa Mimitianisme Ada sebuah pepatah yang hidup di tengah keberagaman budaya Nusantara: “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.” Pepatah ini mengajarkan kita untuk menghormati tempat di mana kita berpijak, menghargai yang telah ada sebelum kita datang, dan menjaga keseimbangan antara pendatang dan pemukim awal. Namun, apa yang terjadi ketika prinsip
-

Mimitianisme: Etika Universal untuk Dunia yang Lebih Adil dan Berkelanjutan
Oleh: Jasutopia | Lensa Mimitianisme Pernahkah kita begitu sibuk memperjuangkan hak orang lain hingga lupa bahwa diri sendiri pun punya hak yang sama? Atau sebaliknya — begitu terpusat pada kepentingan diri hingga tidak menyadari bahwa di luar sana ada manusia, hewan, dan alam yang juga berhak hidup dengan layak? Di sinilah Mimitianisme hadir. Bukan sebagai
